Not Friends: Surat Cinta Untuk Sinema, Teman Dekat dan Tak Dekat Kita
Panjang umur sinema, panjang umur pertemanan kita
“Long Live Cinema, Bro” adalah potongan dialog yang bertebaran di jagat sosmed ketika film ini rilis. Awalnya saya pesimis karena di hari pertama penayangannya, film ini ga tayang di bioskop terdekat di rumah saya. Maka ketika tiba-tiba bioskop dekat rumah mengumumkan kalau Not Friends bakal tayang meskipun terlambat dua hari dari tempat lain, saya langsung bergegas menonton demi nama sinema. Ternyata film ini bukan hanya surat cinta bagi para penikmat film tetapi ia juga berbicara soal makna pertemanan yang begitu kuat.
Ternyata kita ga dekat-dekat amat dengan teman-teman kita
Not Friends bercerita tentang Pae yang ingin membuat film soal mendiang temannya Joe, namun ternyata yang melatar belakangi Pae membuat film tersebut bukan untuk mengenang Joe, melainkan untuk ikut lomba film pendek supaya bisa masuk universitas tanpa tes.
Ketika Joe meninggal, hanya segelintir orang yang benar-benar mengingat dan dekat dengan dia. Tetapi teman-teman sekolahnya mengingat ia dengan berbagai macam sosok. Semua orang punya gambaran versi Joe yang mereka sukai dan ingat, merekalah teman-teman tak dekat Joe yang juga berharga di hidupnya.
Di film ada dialog yang bilang begini “Ilmuwan mengatakan bahwa dalam hidup kita, kita akan punya 150 teman di dekat kita dan itu akan terus berganti seiring berjalannya waktu.” Mungkin 150 orang tersebut tidak dekat-dekat amat dengan kita tapi mereka punya jalinan erat dengan alur cerita kehidupan kita.
Pae mungkin menjadi pusat perjalanan mencari makna pertemanan itu sendiri, di sini saya sangat relate dengan Pae. Pernah ga sih kalian ngerasa ga dekat dengan teman kalian tetapi mereka malah merasa sebaliknya? Saya sedihnya sering merasa demikian. Saat Pae membuat film untuk Joe, ia merasa Joe bukan siapa-siapa baginya meskipun sebulan belakangan mereka kerap bersama. Tapi siapa sangka lewat pembuatan film tadi yang niatnya bahkan tidak murni untuk temannya, Pae menemukan dan menghargai arti pertemanan itu sendiri.
Tertawa dengan jokes-jokes sinepilnya, menangis karena mengingat teman kita
Film ini memang hadir dengan genre komedi, drama, dan sepanjang film banyak adegan-adegan yang dibuat begitu komikal yang sanggup mengocok perut karena lelah tertawa. Bisa juga dikatakan bahwa komedinya memang komedi khas Thailand banget. Jokes-jokes soal filmnya ga kalah lucu, ini yang membuat Not Friends sinema banget. Salah satu yang paling melekat mungkin bagaimana mereka meributkan film Tenet saat syuting suatu adegan.
Ada dialog yang mengatakan “Duh, kalau begini sih menyalahi hukum Tenet” “Ga apa-apa, ga ada yang ngerti banget kok nonton film itu.” Bener banget, saya sampe sekarang bahkan ga ngerti film Tenet itu maksudnya bagaimana. Kebetulan banget pas nonton saya juga make kaos dengan tulisan “Chirstoper Nolan”, jadi sindiran itu makin berasa dan makin ngakak dengar jokes-jokesnya.
Satu lagi mungkin adalah kalimat “Ini filmnya yang jelek atau aku yang bodoh,” itu asli saya benar-benar ketawa ngakak karena banyak dari kita penikmat film sering merasa begitu. Ketika ada film yang orang-orang bilang bagus banget dan pas kita menontonnya merasa biasa-biasa saja, lalu kita mikir “ ini keknya aku yang bodoh deh ga ngerti filmnya.”
Saya tentu saja bernostalgia dengan teman-teman SMA saya dulu lewat film ini, sekarang kami sudah banyak yang lost contact dan bahkan tidak pernah bersua sejak hari kelulusan. Saya memikirkan bagaimana kehadiran mereka dulu dalam hidup saya telah membawa begitu banyak kebahagiaan dan pengalaman kehidupan yang tak ternilai harganya. Memang, kami sebenarnya tidak dekat-dekat amat tapi hal tersebut tak mengurangi makna pertemanan di antara kami.
Karena Not Friends mengambil setting pertemanan anak SMA, yang tua-tua macam kita, emosi dan ingatannya akan terkeruk habis untuk mengingat masa-masa bersama teman dulu. Tidak melulu teman di masa lalu juga, film ini juga akan sukses mempertanyakan ikatan pertemanan kita sekarang ini. Banyak adegan yang sanggup membuatmu menangis, pokoknya jangan lupa siapkan tisu.
Sehabis nonton saya langsung mengingat-ingat “Ada tidak ya teman yang mungkin sekarang saya musuhi?” Saya ingin langsung berbicara dengan teman-teman saya yang mungkin sudah lama kami tidak berbagi kabar. Takutnya saya mati tiba-tiba seperti Joe dan belum memperbaiki hubungan dengan teman saya yang sekiranya dalam keadaan bermusuhan.
Masa muda dan pencarian jati diri
Selain banyak membicarakan tentang pertemanan, Not Friends juga hadir dengan sisipan kekhawatiran anak muda soal masa depan. Masa-masa SMA itu memang salah satu masa terpusing kita memikirkan masa depan. Apa sih passion yang aku punya? Apakah aku harus kuliah, kalau kuliah ambil jurusan apa ya?. Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa hadir saat kita lulus SMA dan film ini dengan sangat tepat sasaran berhasil membingkai hal itu.
Melihat pada Pae contohnya, ia berangkat dari tidak mengerti apa itu film, bagaimana membuatnya, hingga ia sampai pada titik “Sepertinya filmmaking adalah jalan hidupku.” Memang berat untuk sampai di sana, ia harus menjadi penonton dari teman-temannya yang lebih dulu tahu apa yang mereka ingin lakukan.
Memaknai pertemanan dengan sudut pandang yang lebih luas
Film ini benar-benar surat cinta untuk teman dan ikatan pertemanan itu sendiri. Di dalam film ada dialog seperti ini “Kamu tahu tidak kapan seseorang bisa dikatakan sahabat? Seseorang bisa kita katakan sahabat ketika kita berbagi rahasia dengannya.” Ternyata keintiman dari saling terus terang tidak hanya dapat ditemukan di level ikatan romansa saja, persahabatan itu merupakan ikatan pertemanan di level tinggi yang begitu kuat. Kita berbagi suka-duka, cerita, dan keterusterangan dengannya.
Not Friends telah mengajarkan saya makna dari “teman” yang sebenarnya. Mungkin kemarin saya tidak menganggap teman yang ga dekat-dekat amat dengan saya itu berharga, namun lewat film ini saya diberitahu bahwa semua macam ikatan pertemanan itu sama berharganya, mau dekat atau tidak. Saya merasa lebih menghargai setiap ikatan kecil dengan orang-orang di sekitar saya.
Terakhir saya mungkin ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman saya, terima kasih sudah menjadi temanku, terima kasih sudah hadir mewarnai hidup ini.
“Meskipun nanti kita berpisah karena perbedaan mimpi kita, tapi bisakah sesekali kita saling merindu, teman tak dekatku.”

Komentar
Posting Komentar